« Home | Bulan Dzul Hijjah » | Indonesia Dan "Sihir" » | RAMADHAN TAHUN INI HARUS BERBEDA !!... » | silsilah iman kpd hari akhir -11- » | silsilah iman kpd hari akhir -10- » | silsilah iman kpd hari akhir -9- » | silsilah iman kpd hari akhir -8- » | Silsilah Iman Kepada Hari Akhir -7- » | silsilah iman kpd hari akhir -6- » | silsilah iman kpd hari akhir -5- »

TARBIYAH ALA LUQMAN AL HAKIM 1/2 *

Siapakah Luqman Al Hakim ?
Para Ulama berbeda pendapat siapa Luqman :
Ibnu Wahab berkata : Ia adalah anak saudara perempuan Nabi Yusuf (Keponakannya)>
Imam Muqatil berkata : Ia adalah anak dari bibi Nabi Yusuf (Sepupunya).
Sebagian ulama berpendapat : Ia adalah salah satu anak Azar, sebagian yang lain berpendapat ia adalah anak dari saudara Nabi Ibrahim (Keponakannya).
Imam Alusi berkata: Mayoritas berpendapat bahwa Luqman adalah seseorang yg hidup pada masa Nabi Dawud, dan beliau merajihkannya.
Apakah Luqman seorang nabi?
Para Ulama juga berbeda pendapat dalam hal ini. Ada dua pendapat terkait masalah ini :
Pendapat pertama : Luqman bukanlah seorang Nabi, tetapi ia seorang hamba yg sholih. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, dan pendapat ini merupakan pendapat yang  lebih dekat kepada kebenaran, dikarenakan bahwa Luqman adalah seorang budak sahaya, sehingga tidak bisa dikatakan seorang Nabi, karena Nabi diutus oleh Allah dari golongan pemuka nasab.
Pendapat kedua : Luqman adalah seorang Nabi. Ini merupakan pendapat minoritas ulama.
Terlepas dari semua perbedaan di atas, smua sepakat bahwa Luqman adalah salah satu hamba Allah yg Allah lebihkan atas yang  lain dengan hikmah. Allah berikan hikmah kepadanya, hal ini sesuai dengan firman Allah :
“Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman …” (QS. Luqman : 12)
Makna Hikmah
Kalimat Al Hikmah dalam ayat di atas, berarti hikmah. Sedangkan hikmah, dalam kitab-kitab tafsir, mempunyai makna sebagai berikut :
Imam Mujahid berkata, hikmah adalah Pemahaman, kebenaran dalam berkata dan berbuat, juga akal.
Sedangkan Imam Ashbahani berkata, hikmah ialah Pendapat yang benar karena ilmu dan akal yang dimilikinya.
Lain hal dengan imam Nawawi, beliau mendefinisikan hikmah yaitu Suatu Ilmu yg berbarengan dengan kebijaksanaan, mencakup makrifah kepada Allah, pengetahuan yang dalam demi merealisasikan kebenaran dan mengamalkannya, serta menjauhi kebatilan.
Makna2 yg ada diatas Allah karuniakan kepada hambaNya yang dikehendakiNya, diantaranya yaitu kepada Luqman. Sehingga beliau terkenal dg julukan Luqman Al Hakim “Luqman Yang Punya Hikmah”, juga namanya menjadi abadi karena Allah mengabadikan namanya menjadi nama salah satu surat dalam Al Qur’an.
Nasehat Luqman
Merupakan hak anak-anak untuk mendapatkan mauidzhoh ataupun nasehat yang baik dari orangtuanya, dengan nasehat tersebut seorang anak akan berjalan dengan petunjuk cahaya, sehingga tumbuh kembang menjadi anak yang  berkepribadian baik, beraqidah lurus, berakhlaqul karimah untuk membangun dan memakmurkan dunia dengan syariat Allah.
Dalam surat Luqman, Allah mengabadikan nasehat-nasehat juga hikmah-hikmah yang ditujukan kepada anaknya, untuk menjadi pelajaran dan ibrah bagi orang-orang yang beriman. Nasehat-nasehatnya yang ada dalam Al Qur’an patut dijadikan madrasah bagi para orang tua, para pendidik juga bagi semua kaum yg beriman untuk menjadi generasi yang penuh dengan keimanan, generasi penerus kejayaan Islam.
Allah berfirman :
وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur [kepada Allah], maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (12) Dan [ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kezaliman yang besar". (13) Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1] Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (14)Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (15) [Luqman berkata]: "Hai anakku, sesungguhnya jika ada [sesuatu perbuatan] seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya [membalasinya]. Sesungguhnya Allah Maha Halus [2] lagi Maha Mengetahui. (16) Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah [manusia] mengerjakan yang baik dan cegahlah [mereka] dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan [oleh Allah]. (17) Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia [karena sombong] dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalan [3] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (19) 
Nasehat Luqman dalam ayat-ayat di atas, bisa disimpulkan dibawah ini :
Pertama : Nasehat berupa perintah untuk menjaga Tauhid, dan menjauhi syirik.
Hal ini sesuai dengan firmanNya dalam ayat 13 : “… Wahai Anakku, jauhilah olehmu kesyirikan, sesungguhnya syirik itu kedholiman yang agung”. Perhatikan dalam kalimat-kalimat  tersebut, Luqman menggunakan sebuah cara menasehati dengan kata panggilan yg lembut “.. ya Bunayya.. wahai Anakku..”, kata yang dipakai pertama kali untuk manarik perhatian, dan supaya si anak mendengarkan apa yg akan diungkapkan oleh si ayah, untuk kemudian supaya ia camkan dan laksanakan. Perhatikan juga bahwa Luqman ketika melarang, ia memberikan alasan larangan tersebut. Nasehat yang pertama ini, ia memberikan dengan larangan juga alasan. Larangan untuk berbuat syirik, dengan alasan bahwa syirik itu adalah sebuah kedholiman yang agung. Inilah hakekat dakwah Nabi Muhammad r kepada kaumnya.
Syirik disebut sebuah dzolim, karena di dalam nya terdapat persamaan antara yang beribadah dan antara Dzat Yang Berhak untuk dipersembahkan ibadah kepadanya, yaitu “Allah”, sehingga ibadah tidak ditempatkan pada tempatnya, inilah sebuah kedzoliman yang jelas, ketika sesuatu ditempatkan pada yang bukan tempatnya.
Kedua : bahwa Allah Mahamengetahui hingga halhal yg terkecil sekalipun.
Ini merupakan nasehat Luqman yg kedua. Nasehat yg berhubungan dengan aqidah dan kepercayaan dalam perkara akhirat dan hal-hal yg berhubungan dengannya termasuk di dalamnya balasan yang sangat adil, penghisaban yang teliti terhadap amalan manusia.
Bahwasanya Allah mempunyai Ilmu yang Syamil, lengkap, melingkupi segalanya, tidak pernah luput darinya sebiji atom pun, meskipun atom tersebut tersembunyi di dalam perut bumi, atau di dalam batu yang hitam nan gelap. Bagaimana dg amalan manusia ?! akankah luput bagiNya?!!
Inilah nasehat Luqman yg kedua : “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya)…”
Dalam ayat ini pula, Luqman memperbarui kata panggilan kepada anaknya, dengan berkata “ya Bunayya.. hai anakku”, bertujuan merefresh pikiran sehingga sang anak memperhatikan nasehat yang kedua.
Dalam ayat ini, jelas sekali tentang ilmu yang Allah miliki, ayat ini hampir sama dengan ayat dalam surat Yunus : 61, “..tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”.
Sebagian mufassir mengartikan nasehat Luqman ini dengan makna yang lain, seakanakan Luqman berkata: “wWhai anakku, jika seandainya manusia mempunyai rizqi sebesar biji sawi yang ada di batu, atau ada di langit atau ada di bumi, maka Allah akan mendatangkannya kepada pemiliknya..”, sehingga sudah seharusnya seorang muslim dalam urusan harta dan rizki tidak sampai tersibukkan olehnya dari beribadah kepada Allah, karena apa yang sudah ditakdirkan untuknya, akan menjadi miliknya.
Ketiga : Perintah untuk mendirikan sholat, dan amar ma’ruf nahi munkar
Setelah Luqman aqidah terpatri dalam hati sanubari sang anak melalu dua nasehat yang sebelumnya; tauhid dan perkara akhirat, Luqman meneruskan nasehat yang lain berupa praktek amal sholih dengan sholat sebagai permulaannya.
“Hai Anakku, dirikan sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yg menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal2 yg diwajibkan oleh Allah” (Luqman : 17)
Nasehat ini dimulai dengan sholat, mengingat urgensinya bagi seorang muslim. Sholat yang merupakan penyerahan diri dan hati kepada Allah, dipenuhi dengan kepasrahan, ketundukan, juga penuh dengan tasbih dan doa pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh syariat, sholat sabagai tiang agama. Nasehat ini tidak hanya mengajak untuk melakukan sholat saja, tetapi mendirikannya dengan pemenuhan fardhu-fardhunya, juga kekhusyuannya dan didirikan pada waktu-waktunya sehingga membuahkan hasil seperti yang ada dalam surat Al Ankabut : 45, “Sesungguhnya sholat itu mencegah seseorang dari kekejian dan kemungkaran”.
Setelah nasehat untuk mendirikan sholat, tidak lupa Luqman mengingatkan anaknya untuk selalu mengajak manusia kepada kebaikan “ma’ruf” dan mencegah mereka dari kemungkaran, sehingga dengan ini dia bisa membawa manfaat bagi orang lain pula, untuk kemudian diikuti nasehat ini dengan perintah untuk bersabar dalam mengerjakan amar ma’ruf nahi mungkar, juga dalam semua urusan yang ia alami.
Ada korelasi antara perintah amar ma’ruf nahi mungkar dengan perintah sabar, supaya ia tegar dan teguh pendirian dalam beramar ma’ruf nahi mungkar, walaupun duri-duri dan hambatan di dalamnya selalu datang bertubi-tubi, kesabaran akan membuatnya tak pantang mundur membela kebenaran dan menghalau kebatilan. Luqman pun mengajarkan kepada anaknya, bahwa Sabar itu merupakan hal yg difardhukan oleh Allah, dan termasuk akhlaqul karimah, sabar di sini disebut dengan “min azmil umuur”, sehingga para Nabi yang sabar hingga pada puncaknya, mereka disebut dengan Nabi Ulul Azmi dalam surat Al Ahqaf : 35 “…Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar..”.
Keempat : Perintah untuk tawadhu’ dan bersikap lemah lembut
Nasehat berupa adab-adab dalam bergaul dan berinteraksi dengan manusia, nasehat ini ada pada nasehatnya yang keempat untuk sang anak, Allah berfirman menceritakan nasehat Luqman kepada anaknya, “… Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia [karena sombong] dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Luqman : 18)
Ayat di atas seakan-akan berkata “hadapi dan gauli manusia dengan wajah dan diri yang tawadhu’, janganlah kau berpaling muka dari mereka karena kesombongan, serta hendaklah kau berjalan dengan tawadhu’ pula.
Perintah untuk berjalan dengan tawadhu’, terdapat pula dalam ayat yg lain, yaitu surat Al Isra’ : 37 “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.
Kelima : Menjaga Adab berjalan dan berbicara
Nasehat ini ada dalam ayat : 19,  “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan  dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Sederhana disini berarti tengah-tengah antara terlalu cepat, dan terlalu pelan, tidak berjalan dengan penuh kesombongan. Dalam ayat diatas juga adanya larangan untuk untuk memperkeras suara tanpa adanya kebutuhan, hendaklah seseorang melunakkan suara ketika berbicara dengan orang lain, karena suara yang ditinggikan tanpa adanya kebutuhan ibarat suara keledai, dimana Allah menyifatinya dengan seburuk2-buruksuara.
 
METODE TARBIYAH DENGAN NASEHAT
Sesungguhnya termasuk salah satu cara mendidik anak adalah dengan memberikan mauidzhoh ataupun nasehat, cara ini termasuk salah satu cara jitu untuk mendidik keimanan, juga akhlaq sang anak. Cara ini banyak sekali dipakai oleh Al Qur’an.
Tarbiyah dengan nasehat ini mempunya banyak metode, diataranya :
1.       Memanggil dengan panggilan penuh kasih sayang. Misalnya dalam ayat tadi, kata “ya Bunayya” terulang beberapa kali. Contoh lain ketika Nabi Nuh menasehati anaknya untuk mau ikut dengannya, beliau memanggilnya dengan “ya Bunayya” (QS. Hud : 42 ).
2.       Memberikan mauidzoh melalui kisah dan cerita. Cara inipun banyak digunakan dalam al qur’an, mengingat betapa penting dan berpengaruh sebuah kisah dalam diri manusia.
3.       Memberikan mauidzoh dengan Tanya Jawab, Tanya jawab yang akan membuat si pendengar berpikir untuk mencari jawabannya, yang kemudian jawabannya berupa nasehat. Uslub ini juga sering digunakan oleh Rasulullah dengan para Sahabatnya. Suatu ketika Rasul bertanya kepada para Sahabatnya: “siapakah orang yang bangkrut itu ?”. mereka menjawab: orang yang bangkrut yaitu orang yang tidak punya uang ataupun harta benda. Rasul berkata : “orang yang bangkrut yaitu orang datang pada hari kiamat dengan banyak puasa dan sholat serta zakat, tetapi ia telah menghina si ini, menuduh dengan tuduhan zina kepada si ini, makan harta si ini, membunuh si ini, memukul si ini, maka si ini tadi diberikan kepadanya kebaikan-kebaikannya, dan si ini diberikan kepadanya kebaikannya, jika telah habis kebaikannya sebelum selesai “hutang”nya, maka kejelekan mereka akan diambil dan ditumpahkan kepadanya, untu kemudian dia di seret ke neraka”. (HR. Muslim).
4.       Memberikan nasehat dengan cara berkala dan berhemat “tidak terlalu panjang”, supaya terhindar dari kebosanan. Diriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah tidak memanjangkan khutbah pada hari Jumat, tetapi khutbahnya berupa perkataan yang sederhana “tidak terlalu panjang”. (HR. Abu Dawud).
5.       Memberikan nasehat dengan cara memberikan perumpamaan dan permisalan. Permisalan dapat menarik si pendengar, dan lebih memberi pengaruh hebat dalam diri pendengar.
6.       Memberikan nasehat dengan cara memberi gambar dan penjelasan. Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah menggambar sebuah kotak, di tengah kotak digambar garis lurus hingga keluar dari kotak, dan memberi garis di samping garis dalam kotak tadi, lalu beliau bersabda : “ini adalah manusia, dan ini ajalnya mengelilinginya, garis-garis yang keluar ini adalah impian-impiannya, dan garis kecil yang disampingnya yaitu a’radh (perkara-perkara yang kadang menghalangi)”.
7.       Memberikan mauidzhoh dengan cara praktek. Rasulullah berwudhu di depan para sahabat, lalu berkata : “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku lalu mendirikan sholat dua rakaat dan ia tidak berbicara dengan dirinya sendiri (masalah dunia), ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhori)
8.       Memberikan mauidzhoh dengan menunjukkan hal yang dilarang, seperti ia membawanya lalu ditunjukkan kepada yang lain, untuk menyatakan bahwa hal itu dilarang. Dari Ali bin Abi Thalib “bahwa Rasulullah mengambil kain sutera dan beliau bawa di tangan kanan, dan mengambil emas dan beliau bawa di tangan kirinya, lalu bersabda : “Dua hal ini diharamkan bagi kaum laki-laki dari ummatku”. (HR. AlMaqdisi)
Wallahu a’lam. (bersambung)
*Diringkas dari salahsatu bab dalam buku "Almafahim Attarbawiyah fii Usratil Anbiya“* oleh:
Lathifah Munawarah, M.Sh. 

1 Responses to “TARBIYAH ALA LUQMAN AL HAKIM 1/2 *”

  1. # Blogger Budid

    Alhamdulillah. Ditunggu part II nya..  

Post a Comment



www.flickr.com

© 2006 ummi asiya | Blogger Templates by GeckoandFly| diutak-atil olehabi asiya .